Ini bukanlah review dari novel keren om Pram "Bumi Manusia." Hanya sekedar menuliskan beberapa friksi percakapan di novel tersebut yang Saya sukai.
"Berterima kasihlah pada segala yang memberimu kehidupan, kata mama, sekalipun dia hanya seekor kuda." Hal 50. percakapan Annelies dengan Minke.
"Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri. Bersuka karena usahanya sendiri dan maju karena pengalamannya sendiri." Hal 59. Nyai Ontosoroh kepada Minke.
"Pandanglah mata orang yang mengajakmu bicara." Hal. 64. Gumam Minke dalam hati keika pertama kali bertemu dengan tuan Mellema.
"Seorang terpelajar harus juga belajar berlaku adil sudah dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan." Hal. 77. Petuah Jean Marais kepada Minke. Mungkin kalimat ini yang paling sering dikutip bahkan oleh mereka yang belum membaca novel ini. hanya membacanya dari kutipan orang kedua.
"Kasihan hanya perasaan orang berkemauan baik yang tidak mampu berbuat. Kasihan hanya kemewahan, atau satu kelemahan . Yang terpuji memang dia yang mampu melakukan kemauan baiknya." Hal. 83. Jean Marais. Seorang veteran tentara yang pernah beroperasi di Aceh.
"Manusia yang wajar mesti punya sahabat. Persahabatan tanpa pamrih. Tanpa sahabat hidup akan terlalu sunyi." Hal. 101. Petuah Nyai Ontosoroh kepada Minke ketika bercerita tentang Jean Marais.
"Harus adil sejak dalam pikiran. Jangan ikut-ikutan jadi hakim tentang perkara yang tidak diketahui benar tidaknya." Hal. 105. Jean Marais.
"Semakin tinggi sekolah bukan semakin menghabiskan makanan orang lain. Harus semakin mengenal batas. Kalau orang tak tahu batas. Tuhan akan memaksanya tahu dengan caraNya sendiri." Hal. 189. Bunda Minke.
"Tempuhlah jalan yang kau anggap terbaik. Hanya jangan sakiti orangtuamu, dan orang yang kau anggap tak tahu segala sesuatu yang kau tau." Hal. 194. Bunda Minke.
"Pada waktu itu hilang perasaanku sebagai seorang satria Jawa, satria tanpa tandingan dalam angan sendiri, tinggal hanya seorang pengecut-telah menjadi takut hanya karena berita, berita saja, bahwa sang nyawa sedang terancam." Hal. 229
"Dalam ilmu, malu tidak punya harga, biarpun hanya sesersepuluh dari sepersepuluh sen." Hal. 378
"Kau sendiri jangan lupa, Minke, mereka yang merintis ke Hindia ini-Mereka hanya petualang dan orang tidak laku di Eropa sana. Disini Mereka berlagak lebih Eropa, sampah itu. " Hal. 416
"Pribadi luar biasa memang dilahirkan oleh keadaan dan syarat-syarat luar biasa seperti halnya Minke." Hal. 435
"Kriminal dalam percintaan yang menaklukan wanita dengan gemerincing ringgit, kilau harta dan pangkat. Lelaki belakangan ini adlaah juga kriminal, sedangkan perempuan yang tertaklukkan hanya pelacur." Hal. 440
"Mau kau menguntapkan Juffrouw Magda sampai ke kapal atas nama kami berdua, mama dan kau pribadi? Juga atas nama bunda? Orang sebaik itu tak boleh dan tak patut dilepas dalam kesunyian." Hal. 474. Pinta minke kepada temannya Jan Dapperste.
"Apakah guna sekolah-sekolah didirikan kalau toh tak dapat mengajarkan mana hal mana tidak, mana benar mana tidak?" Hal. 507
Mampang Prapatan, 06 04 16
"Berterima kasihlah pada segala yang memberimu kehidupan, kata mama, sekalipun dia hanya seekor kuda." Hal 50. percakapan Annelies dengan Minke.
"Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri. Bersuka karena usahanya sendiri dan maju karena pengalamannya sendiri." Hal 59. Nyai Ontosoroh kepada Minke.
"Pandanglah mata orang yang mengajakmu bicara." Hal. 64. Gumam Minke dalam hati keika pertama kali bertemu dengan tuan Mellema.
"Seorang terpelajar harus juga belajar berlaku adil sudah dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan." Hal. 77. Petuah Jean Marais kepada Minke. Mungkin kalimat ini yang paling sering dikutip bahkan oleh mereka yang belum membaca novel ini. hanya membacanya dari kutipan orang kedua.
"Kasihan hanya perasaan orang berkemauan baik yang tidak mampu berbuat. Kasihan hanya kemewahan, atau satu kelemahan . Yang terpuji memang dia yang mampu melakukan kemauan baiknya." Hal. 83. Jean Marais. Seorang veteran tentara yang pernah beroperasi di Aceh.
"Manusia yang wajar mesti punya sahabat. Persahabatan tanpa pamrih. Tanpa sahabat hidup akan terlalu sunyi." Hal. 101. Petuah Nyai Ontosoroh kepada Minke ketika bercerita tentang Jean Marais.
"Harus adil sejak dalam pikiran. Jangan ikut-ikutan jadi hakim tentang perkara yang tidak diketahui benar tidaknya." Hal. 105. Jean Marais.
"Semakin tinggi sekolah bukan semakin menghabiskan makanan orang lain. Harus semakin mengenal batas. Kalau orang tak tahu batas. Tuhan akan memaksanya tahu dengan caraNya sendiri." Hal. 189. Bunda Minke.
"Tempuhlah jalan yang kau anggap terbaik. Hanya jangan sakiti orangtuamu, dan orang yang kau anggap tak tahu segala sesuatu yang kau tau." Hal. 194. Bunda Minke.
"Pada waktu itu hilang perasaanku sebagai seorang satria Jawa, satria tanpa tandingan dalam angan sendiri, tinggal hanya seorang pengecut-telah menjadi takut hanya karena berita, berita saja, bahwa sang nyawa sedang terancam." Hal. 229
"Dalam ilmu, malu tidak punya harga, biarpun hanya sesersepuluh dari sepersepuluh sen." Hal. 378
"Kau sendiri jangan lupa, Minke, mereka yang merintis ke Hindia ini-Mereka hanya petualang dan orang tidak laku di Eropa sana. Disini Mereka berlagak lebih Eropa, sampah itu. " Hal. 416
"Pribadi luar biasa memang dilahirkan oleh keadaan dan syarat-syarat luar biasa seperti halnya Minke." Hal. 435
"Kriminal dalam percintaan yang menaklukan wanita dengan gemerincing ringgit, kilau harta dan pangkat. Lelaki belakangan ini adlaah juga kriminal, sedangkan perempuan yang tertaklukkan hanya pelacur." Hal. 440
"Mau kau menguntapkan Juffrouw Magda sampai ke kapal atas nama kami berdua, mama dan kau pribadi? Juga atas nama bunda? Orang sebaik itu tak boleh dan tak patut dilepas dalam kesunyian." Hal. 474. Pinta minke kepada temannya Jan Dapperste.
"Apakah guna sekolah-sekolah didirikan kalau toh tak dapat mengajarkan mana hal mana tidak, mana benar mana tidak?" Hal. 507
Mampang Prapatan, 06 04 16
No comments:
Post a Comment