Aku sering jumawa bahwa aku tidak akan pernah sedih saat merantau. aku tidak akan melow karena hidup memang harus seperti ini. aku memang jumawa untuk hal ini namun pada kenyataannya aku tidak sekuat apa yang kuucapkan. tetap saja bahwa keluarga dan kampungku telah tertancap kuat di dalam sanubariku sehingga apapun tentang itu selalu saja membuatku sedih bahkan harus menitikkan air mata.
barusan aku mengantar kakak pertama yang datang ke tempatku. ya sekitr 10 menit yang lalu. dari pagi perasaaan rindu akan kampung membuncah saat mereka sudah bersiap untuk pulang kampung setelah 4 hari disini. tadi aku berusaha untuk menahan semua gejolak titik-titik rindu untuk ayah,ibu dan sanak keluarga yang terlihat di wajah kakakku dan juga ponakanku. aku memang tak sekuat apa yang aku bayangkan. rindu itu terlalu kuat. saat mencium tangannya kemudian mencium pipi ponakanku, aku masih sanggup menahan desiran rindu di dada yang menyesakkan dan membuncah ingin berhamburan keluar dan tidak saat mereka sudah naik ke bis dan menghilang dari pandanganku. saat mengendarai motor pulang mengantar mereka, akhirnya aku menangis, bukan sedih tapi menangis. yah setelah sekian lama tidak menangis akhirnya aku menangis menahan rindu yang tertinggal di rongga dada. rindu untuk semua. rindu untuk rumah dan rindu untuk orang-orang yang selalu menyayangiku
aku takluk akan perasaan seperti itu. ah. menyedihkan memang
meninggalkan orang yang dikasihi. meski kutahu dan meski aku sering
menyadari bahwa hidup memang seperti ini namun ternyata aku tetap saja
sedih. ternyata aku masih manusia yang harus sedih
No comments:
Post a Comment