August 16, 2013

Pagi yang Menjawab

Malam itu, mungkin malam  yang menjemukan buatku juga buatmu, malam yang membuat perasaan kita  berkecamuk, entah itu senang, bahagia bahkan merasa sangat menyesali. Itu gambaran yang sering kita ceritakan pada pagi tentang malam kita saat itu, bukan hanya engkau namun aku juga. Malam yang membuat kita menikmati dinginnya semilir angin dengan sejuta rasa yang tidak abadi. Aku mencumbumu lebih dari mencumbu angin yang sering  menggodaku, aku memelukmu lebih dari memeluk malam yang gelap tanpa kehadiran bintang yang menerangi.

Entah hanya ingin mencoba ataupun karena suatu hal yang membuat pagi harus menyesali malam yang berlalu, seperti para pemabuk yang menyesali dirinya saat mabuk namun terulang saat kembali disuguhi berbagai jenis minuman.

Pagi ini benar-benar menampar kami berdua, menampar sampai terasa sakitnya di lubuk hati terdalam. Bagaimana tidak, janji-janji untuk menjalani malam dengan benar tak dapat kami patuhi, semua janji yang terikrar dari mulut kami hanyalah bayolan semu hingga saat pagi mengingatkan tentang khiilaf kami, barulah tersadar dan mula kembali menyusun janji untuk malam yang lebiih baik.

Kami terlah berjanji lagi bahwa saat kebersamaan kami di hari lain maka akn berjalan dengan aturan yang benar dan saling belajar serta saling mengingatkan, kami tidak ingin menjadi seperti berbagai jenis pasangan merpati yang terbang berduan dengan mesranya tanpa ada lagi aturan yang mengikat karena itu hanyalah nafsu.

Nafsu memang menyenangkan saat sedang dilakukan namun dia akan menjadi penyesalan yang begitu amat sangat ketika sudah dilakukan dan tiada terkira bahagianya sepasang angsa yang mampu menahan nafsunya sebelum fajar mengizinkan mereka melakukan itu.

No comments: