Ibu, aku dan dengan tetap berdoa kepada Allah atas kemurahan rejekiNYA, aku janji untuk menjadi sebab engkau bisa menginjakkan kakimu di Baitullah, entah itu Umrah ataupun berhaji.
sekarang mungkin masih menjadi impian, belum bisa apa-apa akan hal itu namun tidakkah itu yang namanya impian bu. selalu saja impian itu sejak dimulai belum nampak namun aku tetap percaya kepada Allah bahwa impian yang disertai dengan usaha dan menyandarkan hasil kepadaNYA akan menjadi kenyataan pada waktunya, hal yang tidak bisa dimajukan maupun dimundurkan ketika sudah ditetapkan olehNYA.
bu, impian untuk melihatmu menginjakkan kaki di Baitullah tetap kan kuukir di keningku. kucamkan dalam tekadku dan kurangkai dalam setiap doa-doaku. memang sekarang belum waktunya bu, namun selalu saja ada jalan dari Allah untuk mewujudkan impianku itu, aku tak tahu dari arah mana dan dengan cara apa Allah kan memberiku rejeki untuk mewujudkan itu namun percayalah bu, ketika impian itu adalah mulia dan tetap optimis akan rejeki Allah maka semuanya akan nampak sebagai kenyataan yang kan terwujud pada waktunya.
ibu, ini bukan emosi sesaatku untuk melihatmu berpakaian putih menginjakkan kaki di Baitullah sambil melantunkan dzikir kepada Allah, bukan sama sekali bu. memang kemarin saat menemui salah seorang guru di jogorogo, pak Dwi namanya. dia bercerita bahwa besok )Rabu, 8 Mei 2013), dia akan berangkat Umrah beserta anaknya. seorang rekan kerjanya berbasa basi minta didoakan supaya kelak dia juga bisa menginjakkan kaki di Baitullah, sejenak kemudian, aku juga minta doa namun bukan untuk diriku malah aku meminta doa kepadanya supaya suatu saat nanti aku bisa memberangkatkanmu menjejak langkahmu di Baitullah, ibu.
aku minta doa kepada pak Dwi agar diberikan kemampuan untuk memberangkatkanmu ke Baitullah benar-benar dari dalam lubuk hatiku tanpa ada unsur basa basi. tanpa terpikir sekalipun. berangkat dari itulah bu, aku yakin kepada Allah bahwa suatu saat nanti mudah-mudahan saja Allah memberiku rejeki melihatmu berpakaian ihram.
bu, ada tiga momen yang membuat keyakinanku melihatmu berziarah ke Baitullah semakin membuncah. pertama saat aku berkunjung ke guru yang akan melakukan umrah kemudian tadi malam engkau menceritakan tentang bu'de ku yang baru saja menunaikan umrah dan pagi ini, secara tak sengaja aku membaca sebuah novel yang berjudul Cinta bertabur di langit mekkah, bukan menceritakan semua isi novel ini namun ada kalimat di dalamnya yang membuatku semakin yakin akan kuasa Allah, bait novelnya di hal. 21seperti ini "saat menengok ke masa silam, kenyataan yang pernah membuat Yusuf merasa naif untuk bermimpi berangkat haji dengan puluhan juta rupiah. namun segala kenaifan itu terjawab sudah kini, bahwa tiada hal yang tidak masuk logika di mata Allah. jika Allah menginginkan seorang hambaNYA berangkat ke Tanah Suci menjadi tamuNYA, uang bisa datang kapan pun saat waktunya dirasa tepat untuk berangkat ke sana. tentu saja, takdir itu tak lepas dari tangan manusia yang melaluinya dialirkan bantuan Allah." aku mempunyai cita-cita bu bahwa melalui aku, Allah kan mengalirkan bantuanNYA terhadapmu untuk melihat RumahNYA.
katanya kalau kita berdoa dan merasakan benar-benar tulus dari dalam hati maka Insya Allah kan terwujud. semoga saja begitu adanya bu.
sekali lagi bu, aku ingin melihatmu memakai pakaian ihram suatu saat nanti saat menjejakkan langkahmu di Baitullah.
Aaamiiin...!
sekarang mungkin masih menjadi impian, belum bisa apa-apa akan hal itu namun tidakkah itu yang namanya impian bu. selalu saja impian itu sejak dimulai belum nampak namun aku tetap percaya kepada Allah bahwa impian yang disertai dengan usaha dan menyandarkan hasil kepadaNYA akan menjadi kenyataan pada waktunya, hal yang tidak bisa dimajukan maupun dimundurkan ketika sudah ditetapkan olehNYA.
bu, impian untuk melihatmu menginjakkan kaki di Baitullah tetap kan kuukir di keningku. kucamkan dalam tekadku dan kurangkai dalam setiap doa-doaku. memang sekarang belum waktunya bu, namun selalu saja ada jalan dari Allah untuk mewujudkan impianku itu, aku tak tahu dari arah mana dan dengan cara apa Allah kan memberiku rejeki untuk mewujudkan itu namun percayalah bu, ketika impian itu adalah mulia dan tetap optimis akan rejeki Allah maka semuanya akan nampak sebagai kenyataan yang kan terwujud pada waktunya.
ibu, ini bukan emosi sesaatku untuk melihatmu berpakaian putih menginjakkan kaki di Baitullah sambil melantunkan dzikir kepada Allah, bukan sama sekali bu. memang kemarin saat menemui salah seorang guru di jogorogo, pak Dwi namanya. dia bercerita bahwa besok )Rabu, 8 Mei 2013), dia akan berangkat Umrah beserta anaknya. seorang rekan kerjanya berbasa basi minta didoakan supaya kelak dia juga bisa menginjakkan kaki di Baitullah, sejenak kemudian, aku juga minta doa namun bukan untuk diriku malah aku meminta doa kepadanya supaya suatu saat nanti aku bisa memberangkatkanmu menjejak langkahmu di Baitullah, ibu.
aku minta doa kepada pak Dwi agar diberikan kemampuan untuk memberangkatkanmu ke Baitullah benar-benar dari dalam lubuk hatiku tanpa ada unsur basa basi. tanpa terpikir sekalipun. berangkat dari itulah bu, aku yakin kepada Allah bahwa suatu saat nanti mudah-mudahan saja Allah memberiku rejeki melihatmu berpakaian ihram.
bu, ada tiga momen yang membuat keyakinanku melihatmu berziarah ke Baitullah semakin membuncah. pertama saat aku berkunjung ke guru yang akan melakukan umrah kemudian tadi malam engkau menceritakan tentang bu'de ku yang baru saja menunaikan umrah dan pagi ini, secara tak sengaja aku membaca sebuah novel yang berjudul Cinta bertabur di langit mekkah, bukan menceritakan semua isi novel ini namun ada kalimat di dalamnya yang membuatku semakin yakin akan kuasa Allah, bait novelnya di hal. 21seperti ini "saat menengok ke masa silam, kenyataan yang pernah membuat Yusuf merasa naif untuk bermimpi berangkat haji dengan puluhan juta rupiah. namun segala kenaifan itu terjawab sudah kini, bahwa tiada hal yang tidak masuk logika di mata Allah. jika Allah menginginkan seorang hambaNYA berangkat ke Tanah Suci menjadi tamuNYA, uang bisa datang kapan pun saat waktunya dirasa tepat untuk berangkat ke sana. tentu saja, takdir itu tak lepas dari tangan manusia yang melaluinya dialirkan bantuan Allah." aku mempunyai cita-cita bu bahwa melalui aku, Allah kan mengalirkan bantuanNYA terhadapmu untuk melihat RumahNYA.
katanya kalau kita berdoa dan merasakan benar-benar tulus dari dalam hati maka Insya Allah kan terwujud. semoga saja begitu adanya bu.
sekali lagi bu, aku ingin melihatmu memakai pakaian ihram suatu saat nanti saat menjejakkan langkahmu di Baitullah.
Aaamiiin...!
1 comment:
haqqul yakin,, (keyakin besarlah yang dapat membuat semuanya tercapai)
Post a Comment